Melacak Distribusi Barang
Salah satu hal yang menjadi seni dalam dunia penjualan adalah permainan harga yang dilakukan oleh customer. Saya menyebutnya customer; Bisa diartikan sebagai distributor, agen, wholesaller, dan lain-lain. Pada umumnya, setiap perusahaan besar yang mempunyai authorize customer dibawah nya pasti mempunyai sebuah sistem yang dapat mengatur pembagian wilayah bagi tiap-tiap customernya. Pembagian area ini membuat sebuah customer tidak dapat menyeberang dan merebut daerah customer lain. Faktanya, hampir disetiap perusahaan pasti terjadi perebutan wilayah kekuasaan untuk mendapatkan omset yang lebih banyak.
Untuk menanggulangi hal ini, biasanya perusahaan-perusahaan membuat suatu sistem pelacakan jalur distribusi. Banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk melakukan traceability product. Dulu ditempat kerja saya yang lama, saya pernah menggunakan sistem barcode untuk pelacakan jalur distribusi. Setiap barang yang keluar dari gudang harus discan terlebih dahulu untuk dicatat nomor identifikasinya. Data yang sudah disimpan tersebut masuk ke dalam database. Suatu saat jika ditemukan adanya barang yang dijual dibawah harga yang telah dipatok oleh perusahaan, barang tersebut diperiksa nomor identifikasinya. Setelah diketahui nomor identifikasinya, dilakukan pencarian ke dalam database, dan didapatkan barang tersebut terkirim melalui customer A. Aplikasi pengunaan barcode ini sangat memudahkan pelacakan. Dengan catatan, semua barang yang keluar dari gudang 100% melalui proses scanner. Karakteristik barang saya saat itu berdimensi cukup besar. Proses scan nya tidak semudah yang anda bayangkan saat belanja di modern market atau mini market. Sabun cuci dengan mudahnya di scan lewat barcode statis yang ada di meja kasir. Saat itu saya menggunakan scanner portable yang memiliki memory. Setelah proses scan selesai, data ditransfer masuk kedalam sistem ERP. Tingkat kesulitan yang cukup tinggi menyebabkan proses loading menjadi cukup lama. Satu hal yang cukup menghambat adalah bahwa barang tersebut tidak dapat di lakukan pre-scan proses karena perusahaan saya menganut sistem JIT (Just In Time) dimana sering terjadi kejar-kejaran barang karena proses yang kurang smooth.
Sisi lain dari customer adalah sering kali mereka melakukan sedikit permainan dalam penjualan. Entah itu melintas jalur wilayah yang telah ditentukan, atau menjual dengan harga yang dibawah standar. Customer juga pasti sudah mengetahui bahwa produk mereka dilacak. Hanya tinggal bagaimana caranya bagi customer dapat melakukan hal itu tanpa diketahui oleh perusahaan sebagai principle. Satu kasus yang baru saja saya alami ditempat kerja yang sekarang adalah ditemukan penjualan dengan harga yang miring. Saat dilacak, kode customer telah dirusak. Saat ini saya hanya menggunakan stempel sebagai penanda. Memang hal ini sangat mudah untuk dihilangkan, namun karena kebijakan dan karakteristik barang yang dijual, mau tidak mau hanya menggunakan stempel sebagai media pelacakan. Untungnya, ada sistem tersembunyi yang masih memungkinkan saya untuk melacak customer mana yang melakukan kecurangan tersebut.
| < Prev |
|---|